Apa itu Plaxis V.7.2

Posted: 25 Mei 2012 in Panduan Plaxis 72

PLAXIS (Finite Element Code For Soil and Rock Analysis) adalah program pemodelan dan postprocessing metode elemen hingga yang mampu melakukan analisa masalah-masalah geoteknik dalam perencanaan sipil. PLAXIS V. 7.2 menyediakan berbagai analisa teknik tentang displacement, tegangan-tegangan yang terjadi pada tanah, dan lain-lain. Program ini dirancang untuk dapat melakukan pembuatan geometri yang akan dianalisa.

Parameter tanah yang digunakan dalam program PLAXIS diantaranya yaitu :

a) Berat Volume Tanah Kering / dry soil weight (γ dry)
b) Berat Volume Tanah Basah / wet soil weight (γ wet)
c) Permeabilitas Arah Horizontal / horisontal permeability (kx)
d) Permeabilitas Arah Vertikal / vertical permeability (ky)
e) Modulus Young / Young’s Modulus (E),
f) Poisson’s Ratio (v)
g) Kohesi / Cohesion (c)
h) Sudut Geser / Friction Angle (φ)
i) Sudut Dilatasi / Dilatancy Angle (ψ)

Program komputer ini menggunakan elemen segitiga dengan pilihan 6 nodal atau 15 nodal. Pada analisis ini digunakan elemen segitiga dengan 6 nodal agar dapat dilakukan interpolasi dan peralihan nodal dengan menggunakan turunan berderajat dua. Dengan menggunakan elemen ini akurasi hasil analisis sudah cukup teliti dan dapat diandalkan.

PLAXIS terdiri dari 4 program :
1. Input program
2. Calculation program
3. Output program
4. Curve program

Belajar WinTR-20

Posted: 26 Agustus 2011 in WinTR-20 ( Program Hidro )

SOAL 2

Posted: 16 Agustus 2011 in DINDING PENAHAN TANAH

Diketahui suatu struktur turap dari baja dengan pembebanan dan profil lapisan tanah seperti pada gambar di bawah ini.

KETENTUAN :

H1        = 2,00 m                      tanah  I                                    Tanah II

H2        = 3,00 m                      c = 0                                         c = 0

H3        = 5,00 m                      ϕ = 34º                                   ϕ = 34º

q          = 2 t/m                         γ = 1,8 t/m3                          γ = 2,2 t/m3

γw         = 1 t/m3

 

DIMINTA :

  1. Gambarkan diagram distribusi tekanan tanahnya
  2. Hitung kedalaman pancang aktual, dengan faktor keamanan 10% – 30%
  3. Hitung gaya angkur jika angkur dipasang tiap 6 meter / 10 meter.
  4. Gambar desain angkur, turap, dan pertemuan keduanya ( skala 1 : 20 )
  5. Desainkan profil baja turap yang bisa dipakai dan ekonomis ( sesuai momen maksimal ).

( untuk tipe baja dan profil baja dapat dilihat pada tabel baja )

 

 

PENYELESAIAN

Menghitung Koefisien Tekanan Tanah

  • Tekanan Tanah Aktif

  • Tekanan Tanah Pasif

Gambar Sket Diagram Distribusi Tanah

SOAL 1

Diketahui suatu  struktur dinding penahan dan batu kali ( gravity wall ) dengan pembebanan dan profil lapisan tanah seperti pada gambar di bawah ini sebagai salah satu solusi untu keadaan sebenarnya di lapangan di bawah ini.

KETENTUAN :

H1        = 3,00 m          B1        = 2,50 m                      Tanah I ( urug )           Tanah II ( asli)

H2        = 4,00 m          B2        = 0,50 m                      c1         = 0 kN/m           c2         = 10 kN/m

H3        = 1,50 m          B3        = 0,50 m                      Ø1        = 30º                    Ø2        = 30º

H4        = 3,00 m          B4        = 1,50 m                      γ1         = 20 kN/m3       γ2         = 18 kN/m3

q          = 10 kN/m2

DIMINTA :

Analisis konstruksi tersebut terhadap :

  1. Stabilitas Geser
  2. Stabilitas Guling, dan
  3. Stabilitas daya dukung tanah
  4. Gambarkan konstruksi tersebut ( skala 1 : 50 ) beserta sistem drainase pada dinding.

PENYELESAIAN :

Berat Dinding Penahan Tanah dan Beton di atasnya

Bidang 1

Diambil berat jenis beton = 25 kN/m3

W1     = ½ . a . t . γ

= ½ . 0,50 . 7,00 . 25

= 43,75 kN/m

Bidang 2

Diambil berat jenis beton = 25 kN/m3

W2     = p . l . γ

= 7,00 . 0,50 . 25

= 87,5 kN/m

Bidang 3

Diambil berat jenis beton = 25 kN/m3

W3     = p . l . γ

= 5,00 . 1,50 . 25

= 187,5 kN/m

Bidang 4

W4     = p . l . γ

= 3,00 . 2,50 . 20

= 150 kN/m

Bidang 5

W5     = p . l . ( γ1 – γw )

= 4,00 . 2,50 . ( 20 – 10 )

= 100 kN/m

Beban Akibat Beban Merata

W      = q . L

= 10 kN/m2 x 2,50 m

= 25 KN/m

Jarak Beban Terhadap Ujung Dinding Penahan ( di titik O )

  1. x1         = ( ⅔ . 0,50 ) + 1,50                                      = 1,833 m
  2. x2       = ( ½ . 0,50 ) + 0,50 + 1,50                     = 2,25 m
  3. x3         = ( ½ . 5,00 )                                                   = 2,50 m
  4. x4       = ( ½ . 2,50 ) + 0,50 + 0,50 + 1,50      = 3,75 m
  5. x5       = ( ½ . 2,50 ) + 0,50 + 0,50 + 1,50      = 3,75 m
  6. x         = ( ½ . 2,50 ) + 0,50 + 0,50 + 1,50      = 3,75 m

Momen Terhadap Ujung Dinding Penahan ( Titik O )

M1     = W1 . x1

= 43,75 . 1,833

= 80,19375 kN

M2     = W2 . x2

= 87,5 . 2,25

= 196,875 kN

M3     = W3 . x3

= 187,5 . 2,50

= 468,75 kN

M4     = W4 . x4

= 150 . 3,75

= 562,5 kN

M5     = W5 . x5

= 100 . 3,75

= 375 kN

M6     = W6 . x6

= 25 . 3,75

= 93,75 kN

Tabel 1.1 Hasil Perhitungan Momen Akibat Gaya Vertikal

Koefisien Tekanan Aktif ( Ka )

Koefisien Tekanan Tanah Pasif ( Kp )

Tekanan Tanah Aktif ( Pa )

Pa1     = Ka . q . H

= ⅓ . 10 8,50

= 28,333 kN

Pa2     = Ka . γ1 . H1 . ( H2 + H3 )

= ⅓ . 20 . 3,00 . ( 4,00 + 1,50 )

= 120 kN

Pa3     = ½ . Ka . γ’ . ( H2 + H3 )2

= ½ . ⅓ . ( 20 – 10 ) . ( 4,00 + 1,50 )2

= 50,4167 kN

Pa4     = ½ . γw . ( H2 + H3 )2

= ½ . 10 . ( 4,00 + 1,50 )2

= 151,25 kN

Pa5     = ½ . Ka . γ1 . ( H1 )2

= ½ . ⅓ . 20 . ( 3,00 )2

= 30 kN

Σ Pa     = Pa1 + Pa2 + Pa3 + Pa4 + Pa5

= 28,333 + 120 + 50,4167 + 151,25 + 30

= 379,9997 kN

Tekanan Tanah Pasif ( Pp )

Pp             = ½ . Kp . γ . ( H4 )2

= ½ . 3. 20 . ( 3,00 )2

= 270 kN

Jarak  Lengan Terhadap Titik  O

l1          = ½ . H                            = ½ . 8,50                                      = 4,25 m

l2          = ½ . ( H2 + H3 )          = ½ . 4,00 . 1,50                         = 3,00 m

l3       = ⅓ . (H2 + H3 )            = ⅓ . 4,00 . 1,50                           = 2,00 m

l4       = ⅓ . (H2 + H3 )            = ⅓ . 4,00 . 1,50                           = 2,00 m

l5       = ( ⅓ . H1 ) + H2 + H3 = ( ⅓ . 3,00 ) + 4,00 + 1,50     = 6,50 m

l6       = ⅓ . H4                           = ⅓ . 3,00                                        = 1,00 m

Tabel 1.2 Gaya – Gaya Horizontal & Perhitungan Momen

Tabel 1.3 Gaya Horizontal Akibat Tekanan Pasif

Jumlah Gaya – Gaya Horizontal

Σ Ph          = Σ Pa – Σ Pp

= 379,9997 – 270,0

= 109,9997 kN

Momen yang Mengakibatkan Penggulingan

Σ Mg        = Σ Ma – Σ Mp

= 1078,749 – 270,0

= 808,749 kN

Menghitung Stabilitas Terhadap Penggeseran

Tahanan geser pada dinding sepanjang B = 5,00 m, dihitung dengan menganggap dasar dinding sangat kasar. Sehingga sudut geser δb = ϕ2 dan adhesi cd = c2.

Untuk tanah c – ϕ ( ϕ > 0 , dan c > 0 )

Σ Rh = cd . B + W tan δb

Dengan                 Σ Rh    = tahanan dinding penahan tanah terhadap penggeseran

cd         = adhesi antara tanah dan dasar dinding

B         = lebar pondasi ( m )

W        = berat total dinding penahan dan tanah diatas plat pondasi

δb         = sudut geser antara tanah dan dasar pondasi

Σ Rh         = cd . B + W tan δb

= ( 10 kN/m . 5,00 m ) + 593,75 kN/m . tan 30º

= 50 kN/m + 342,8017 kN/m

= 392,8017 kN/m

= 3,5709 ≥ 1,5 _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ ( dimensi tidak perlu diperbesar )

Dimana :

Fgs      = faktor aman terhadap penggeseran

Σ Ph     = jumlah gaya – gaya horizontal

Menghitung Stabilitas Terhadap Penggulingan

Tekanan tanah lateral yang diakibatkan oleh tanah dibelakang dinding penahan, cenderung menggulingkan dinding, dengan pusat rotasi terletak pada ujung kaki depan dinding penahan tanah.

= 1,647 ≥ 1,5 _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ ( dimensi tidak perlu diperbesar )

Dimana :          Fgl       = Faktor aman terhadap penggulingan

Σ Mw  = Jumlah momen yang melawan penggulingan

Σ Ma    = Jumlah momen yang menyebabkan penggulingan

Karena faktor aman konstruksi dinding penahan tanah terhadap geser dan guling lebih dari 1,5

( ≥ 1,5 ), maka dimensi konstruksi  sudah aman dan tidak perlu diperbesar.

Stabilitas Terhadap Keruntuhan Kapasitas Daya Dukung Tanah

Dalam hal ini akan digunakan persamaan Hansen pada perhitungan, dengan menganggap pondasi terletak di permukaan.

Eksentrisitas ( e )

Lebar Efektif ( B’ )   = B – 2e

= 5,00 – ( 2 x 1,324 ) m

= 2,352 m

A’        = B’ x 1

= 2,352 x 1

= 2,352 m2

Gaya – Gaya yang ada pada dinding

  • Gaya horizontal           = 1078,749 kN/m
  • Gaya vertikal               = 593,75 kN/m

Faktor Kemiringan Beban

= 0,707

Berdasarkan tabel : ( untuk ϕ = 30º )

Nc       = 30,14

Nq       = 18,40

Nγ       = 15,07

= 0,690

= 0,718

 

Kapasitas Dukung Ultimit untuk Pondasi di permukaan menurut Hansen :

Df        = 0

dc        = dq     = dγ

Sc        = Sq     = Sγ

Didapat :

qu        = iq . C . Nc + iy . 0,5 . B’ . γ2 . Nγ

= 0,707 . 10 . 30,14 + 0,718 . 0,5 . 2,352 . 18 . 15,07

= 213,0898 + 229,043

= 442,1328 kN/m2

Bila dihitung berdasarkan lebar pondasi efektif, yaitu tekanan pondasi ke tanah dasar terbagi rata secara sama, maka

Faktor aman terhadap keruntuhan kapasitas daya dukung tanah :

Atau dapat pula dihitung dengan kapasitas berdasar distribusi tekanan kontak antara tanah dasar pondasi dianggap linear.

Uji Coba Waternet

Posted: 13 Agustus 2011 in Perancangan Dengan Komputer

PERENCANAAN JARINGAN PDAM PERUMAHAN SELARAS SEHATI SEMARANG

Pengisian Data Pipa :

Pengisian Data Pompa :

Pengisian Data Node :

MEMULAI MEMBUAT JARINGAN PIPA

1. Membuat jaringan pipa, dengan berdasarkan tipe perumahan.

2. Menentukan Letak reservoir pada node 1 dengan elevasi 250 m. Reservoir berasal dari jenis sumber mata air pegunungan.

3. Pemasangan Tangki pada node 2, agar pompa tidak bekerja terlalu berat.

4. Pemasangan pompa pada pipa nomor 1 agar air dapat mengalir ke tangki. Pastikan bahwa arah air tidak terbalik.

5. Pemasangan katup ( valve ) pada jaringan pipa adalah agar dapat mengatur aliran air apabila terjadi kerusakan di suatu titik pipa. Saat ada kebocoran pipa maka katup akan ditutup sehingga air tidak mengalir pada pipa yang akan diperbaiki. Pemasangan katup (valve) tidak boleh dekat dengan tangki air karena katup akan mudah rusak. Pada perencanaan Jaringan PDAM Perumahan Selaras Sehati Semarang ini pemasangan katup (valve) pada node  3,4,8, dan 10. Alasan pemasangan katup pada node itu dikarenakan Katup harus dipasang pada node kosong. Maksimum 2 cabang pipa, tidak boleh dihubungkan langsung dengan pompa atau katup lain. Jumlah katup maksimum 20 unit.

6. Me-running Jaringan Pipa bertujuan untuk melihat apakah air dapat mengalir pada jaringan pipa.

Ternyata setelah di running hasilnya berwarna kuning dan ada penjelasannya. Kecepatan pada beberapa pipa terlalu rendah sehingga terjadi aliran laminer. Program ini menghasilkan kehilangan energi yang lebih besar untuk aliran laminer. Jadi hasil hitungan khususnya pada pipa tersebut kemungkinan tidak akurat. Aliran laminer pada pipa berikut : 2 dan 11.

Lalu saya mencoba dengan satu katup pada node 8, dalam keadaaan terbuka dan hasilnya setelah di running adalah hijau. Yang artinya bahwa untuk hasil terbaik adalah dengan memakai satu katup karena aliran ini termasuk aliran melingkar. Jika terlalu banyak katup maka akan menjadikan aliran laminer. SUKSES

7. Membuat garis kontur dengan interval 10 ( 250 – 220 )

Warna merah                           : 284.939

Warna orange                          : 279.654

Warna kuning                          : 274.388

Warna hijau muda                   : 269.083

Warna hijau                             : 263.798

Warna hijau tua                       : 258.512

Warna  biru muda                    : 253.227

Warna biru agak tua                : 247.941

Warna biru                              : 242.856

Warna biru tua                                    : 237.371

Gempa adalah pergeseran tiba-tiba dari lapisan tanah di bawah permukaan bumi. Ketika pergeseran ini terjadi, timbul getaran yang disebut gelombang seismik ( getaran gempa yang menjalar di dalam dan dipermukaan bumi dengan cara longitudinal dan transfersal ). Gelombang ini menjalar menjauhi fokus ( sumber gempa di dalam bumi, tempat batuan pertama patah. ) gempa ke segala arah di dalam bumi. Ketika gelombang ini mencapai permukaan bumi, getarannya bisa merusak atau tidak tergantung pada kekuatan sumber dan jarak fokus, disamping itu juga mutu bangunan dan mutu tanah dimana bangunan berdiri.